sekolahkendari.com

Loading

cerpen singkat tentang sekolah

cerpen singkat tentang sekolah

Cerpen Singkat Tentang Sekolah: Jendela Kehidupan, Mimpi, dan Persahabatan

1. Aroma Kapur dan Mimpi-Mimpi yang Bersemi

Sekolah. Bangunan tua dengan tembok yang mulai mengelupas, namun menyimpan sejuta cerita. Pagi itu, aroma kapur tulis bercampur debu memenuhi udara kelas VII-A. Di bangku paling belakang, duduklah Arya, seorang anak laki-laki kurus dengan tatapan mata setajam elang. Bukan karena nakal, melainkan karena ia sibuk mengamati dunia di luar jendela. Bukan pelajaran aljabar yang menarik perhatiannya, melainkan burung pipit yang sedang membangun sarang di ranting pohon mangga. Arya bermimpi menjadi seorang arsitek, merancang bangunan-bangunan megah yang ramah lingkungan. Aljabar, baginya, hanyalah sebuah tangga yang harus ia lewati, bukan tujuan akhir.

Di bangku depan, Rani, si kutu buku dengan kacamata tebal, sedang tekun mencatat penjelasan guru. Rani bercita-cita menjadi seorang dokter. Ia ingin menyembuhkan orang-orang sakit, meringankan penderitaan mereka. Baginya, setiap rumus kimia, setiap teori biologi, adalah senjata untuk melawan penyakit. Arya dan Rani, dua anak manusia dengan mimpi yang berbeda, namun dipertemukan di ruang kelas yang sama, di bawah atap sekolah yang sama.

2. Jalur Panjang dan Bisikan Persahabatan

Bel istirahat berdering nyaring. Arya bergegas keluar kelas, menuju perpustakaan. Bukan untuk membaca buku pelajaran, melainkan untuk mencari buku-buku tentang arsitektur. Rani, dengan buku catatan di tangan, berjalan menuju kantin. Ia lapar, tapi lebih lapar lagi akan ilmu pengetahuan. Di lorong panjang yang menghubungkan kelas dan kantin, mereka berpapasan.

“Arya, sedang apa?” tanya Rani, sambil tersenyum ramah.

“Mau ke perpustakaan. Cari buku tentang bangunan,” jawab Arya, sedikit malu.

“Oh, arsitek masa depan, ya?” goda Rani, sambil tertawa kecil.

Arya hanya tersenyum. Mereka berjalan bersama menuju kantin. Rani bercerita tentang kesulitan memahami materi fisika, Arya bercerita tentang mimpinya merancang rumah susun yang bisa menampung banyak orang. Di lorong panjang itu, di antara bisikan persahabatan, mereka saling menguatkan, saling menyemangati. Sekolah bukan hanya tempat belajar, tapi juga tempat menjalin persahabatan.

3. Lapangan Upacara dan Semangat Kebersamaan

Setiap hari Senin, lapangan upacara menjadi saksi bisu semangat kebersamaan. Barisan siswa berjejer rapi, menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan penuh khidmat. Arya dan Rani berdiri berdampingan, meskipun berbeda kelas. Di bawah terik matahari, mereka merasakan semangat yang sama, semangat untuk belajar, semangat untuk berkarya, semangat untuk membangun bangsa.

Setelah upacara selesai, Arya melihat Rani tampak pucat. Ia menghampirinya dan bertanya, “Kamu tidak apa-apa, Rani?”

Rani menggeleng pelan. “Aku sedikit pusing.”

Tanpa ragu, Arya memapah Rani menuju UKS (Usaha Kesehatan Sekolah). Ia menemani Rani sampai kondisinya membaik. Di lapangan upacara yang panas, di tengah semangat kebersamaan, Arya menunjukkan kepeduliannya terhadap sahabatnya. Sekolah mengajarkan bukan hanya ilmu pengetahuan, tapi juga nilai-nilai kemanusiaan.

4. Ruang Laboratorium dan Keajaiban Penemuan

Ruang laboratorium adalah tempat keajaiban terjadi. Di sini, siswa belajar tentang hukum alam, tentang reaksi kimia, tentang keajaiban biologi. Rani sangat menyukai pelajaran IPA. Ia selalu antusias mengikuti setiap percobaan. Arya, meskipun lebih tertarik pada seni, juga ikut bersemangat. Ia membantu Rani menyiapkan alat dan bahan percobaan.

Suatu hari, mereka melakukan percobaan tentang fotosintesis. Rani menjelaskan proses fotosintesis dengan sangat detail. Arya mendengarkan dengan seksama. Tiba-tiba, Arya mendapat ide. Ia ingin merancang sebuah alat yang bisa mempercepat proses fotosintesis, sehingga tanaman bisa menghasilkan lebih banyak oksigen.

“Rani, bagaimana kalau kita membuat alat ini?” tanya Arya, dengan mata berbinar.

Rani tersenyum. “Ide bagus, Arya! Ayo kita coba!”

Di ruang laboratorium yang penuh keajaiban, mereka bekerja sama, menciptakan sebuah alat sederhana yang bisa mempercepat proses fotosintesis. Sekolah memfasilitasi siswa untuk berkreasi, untuk berinovasi, untuk menemukan hal-hal baru.

5. Pentas Seni dan Ekspresi Diri

Pentas seni adalah ajang untuk mengekspresikan diri. Di sini, siswa menunjukkan bakat dan minat mereka. Arya sangat pandai menggambar. Ia membuat lukisan mural yang indah di dinding sekolah. Rani pandai bermain musik. Ia memainkan piano dengan sangat merdu. Mereka berdua ikut serta dalam pentas seni, menunjukkan kemampuan mereka kepada seluruh warga sekolah.

Arya melukis pemandangan alam yang indah, menggambarkan mimpinya tentang bangunan-bangunan ramah lingkungan. Rani memainkan lagu klasik yang menyentuh hati, menggambarkan harapannya tentang dunia yang lebih sehat dan bahagia. Di pentas seni, mereka bukan hanya menunjukkan bakat mereka, tapi juga menyampaikan pesan-pesan positif kepada orang lain. Sekolah memberikan wadah bagi siswa untuk mengekspresikan diri, untuk mengembangkan bakat dan minat mereka.

6. Ujian Akhir dan Perpisahan Sementara

Waktu berlalu begitu cepat. Ujian akhir semester sudah di depan mata. Arya dan Rani belajar dengan giat. Mereka saling membantu, saling menyemangati. Mereka ingin mendapatkan nilai yang bagus, agar bisa masuk ke sekolah menengah atas (SMA) impian mereka.

Setelah ujian selesai, mereka merasa lega. Mereka telah memberikan yang terbaik. Sekarang, tinggal menunggu hasilnya. Mereka berharap bisa masuk ke SMA yang sama, agar bisa terus belajar dan berkarya bersama.

Hari pengumuman kelulusan tiba. Arya dan Rani lulus dengan nilai yang memuaskan. Mereka berdua diterima di SMA yang sama. Mereka sangat senang. Mereka berjanji akan terus belajar dan berkarya, untuk meraih mimpi-mimpi mereka.

Namun, perpisahan tetap tak terhindarkan. Libur sekolah telah tiba. Arya akan pulang ke kampung halamannya, Rani akan pergi berlibur ke rumah neneknya. Mereka berjanji akan tetap berhubungan, akan saling mengirim surat dan kabar. Perpisahan ini hanyalah sementara. Mereka akan bertemu lagi di SMA, dengan semangat yang lebih membara.

7. Kenangan Indah dan Pembelajaran Berharga

Sekolah adalah tempat yang penuh kenangan indah. Di sini, siswa belajar, bermain, tertawa, dan menangis bersama. Sekolah adalah tempat yang membentuk karakter dan kepribadian siswa. Sekolah adalah jendela kehidupan, tempat mimpi-mimpi bersemi dan persahabatan terjalin.

Arya dan Rani akan selalu mengingat masa-masa indah di masa sekolah dasar mereka. Mereka akan selalu mengingat pelajaran berharga yang mereka peroleh. Mereka akan selalu menghargai persahabatan yang telah terjalin. Pihak sekolah telah membekali mereka dengan bekal untuk menghadapi masa depan.

Meskipun mereka akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, mereka tidak akan pernah melupakan sekolah dasar mereka. Sekolah dasar adalah fondasi yang kuat, yang akan menopang mereka dalam meraih mimpi-mimpi mereka. Sekolah adalah tempat yang akan selalu mereka rindukan. Sekolah adalah rumah kedua bagi mereka.